Indonesia merupakan bagian dari cincin api pasifik (Pacific Ring Of Fire), yaitu area yang sangat luas dari cekungan pasifik dimana gempabumi dan letusan gunungapi sering terjadi. Di Indonesia ada 3 lempeng aktif yang berinteraksi, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Pergerakan lempeng ini menghasilkan tatanan geologi Indonesia dengan berbagai potensi di dalamnya. Potensi sumber daya gelogi negatif yang dimiliki oleh Indonesia berupa potensi bencana alam seperti letusan gunungapi, gempabumi, tsunami, dan lain-lain. Bencana alam merupakan kejadian luar biasa yang tidak pernah diharapkan, yang diakibatkan oleh proses alami pada bumi. Bencana alam adalah kejadian yang tidak pernah bisa diprediksi keterjadiannya dan belum ada satu teknologi pun yang dapat mencegah terjadinya bencana alam geologi. Dalam menghadapi bencana alam geologi, kita hanya dapat meminimalisir jumlah kerugian materil maupun korban jiwa yang terdampak akibat bencana tersebut melalui beragam upaya yang disebut dengan “Mitigasi Bencana Alam Geologi”. Dalam mitigasi tersebut, hal terpenting adalah bagaimana masyarakat mengenali potensi-potensi bencana alam pada wilayah tempat tinggal masing-masing.

Ring of Fire

Dalam upaya melakukan mitigasi bencana alam geologi tersebut, kita perlu mengetahui apa saja yang harus kita lakukan pada saat sebelum terjadi (kesiapsiagaan), saat terjadi (tanggap darurat), dan sesudah terjadi bencana (penormalan kembali). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, pasal 1 menyebutkan bahwa Mitigasi bencana adalah serangkaian Simulator Gempa Okupaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Menindaklanjuti Peraturan Pemerintah tersebut (berdasarkan Permen ESDM Nomor 13 tahun 2016), maka Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaksanakan penelitian, penyelidikan, perekayasaan dan pelayanan di bidang vulkanologi dan mitigasi bencana geologi. PVMBG memiliki 74 pos pengamatan gunung api yang selama 24 jam terus beroperasi dalam memantau gunung api. Pengamatan tersebut bertujuan untuk mengetahui aktivitas terkini (real time) dari gunung api. Hal tersebut merupakan salah satu upaya mitigasi dalam mengurangi dampak bencana.

Upaya lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah upaya melakukan edukasi melalui penyuluhan bencana alam kepada masyarakat sekitar juga sering dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat. Harapannya, agar masyarakat mendapatkan pembelajaran dan memiliki wawasan untuk identifikasi sederhana potensi-potensi bencana di daerahnya masing-masing. Begitu pula dengan Museum Geologi yang turut mendukung penyebaran luasan informasi kebencanaan geologi melalui ruang peragaan dan kegiatan sosialisasi.

Museum Geologi merupakan salah satu sarana edukasi mengenal kebencanaan alam geologi. Terdapat berbagai peragaan kebencanaan yang dapat disaksikan langsung oleh pengunjung. Meminimalisasikan dampak juga berarti memenuhi kemaslahatan masyarakat akan perlindungan diri.

Sosialisasi Pa Partoyo

Sosialisasi Pos GASaat ini merupakan zaman mutakhir dimana segala sesuatunya dapat dilakukan melalui media daring. Penyampaian dan penyebaran informasi kepada masyarakat lebih cepat dan efektif. Penerimaan informasi tidak terkendala jarak maupun waktu dan merupakan sarana yang dapat dioptimalisasikan oleh pemerintah untuk berinteraksi langsung dengan semua kalangan masyarakat. Pemerintah melalui Badan Geologi pun telah memanfaatkan teknologi informasi dalam menyampaikan berbagai informasi terkait kebencanaan geologi secara real time (https://magma.vsi.esdm.go.id/). Diharapkan dengan adanya aplikasi tersebut, seluruh masyarakat indonesia akan lebih peduli dan waspada akan kemungkinan-kemungkinan bencana yang akan terjadi di tempat tinggalnya, sehingga kerugian materil dan korban jiwa dapat lebih diminimalisir dengan optimal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana memiliki inisiasi bahwa 26 April menjadi Hari Kesiapsiagaan Bencana. Hal ini bertujuan agar kita selalu siap dan siaga atas bencana yang tidak pernah kita ketahui kapan datangnya. Dalam satu hari tersebut, diupayakan kita melakukan latihan kesiapsiagaan bencana secara serentak. Upaya evakuasi mandiri perlu dilatih agar semakin tanggap dalam menghadapi bencana. Dengan ajakan ini, diharapkan dapat menjadi kunci keberhasilan dalam menyelamatkan individu masyarakat lebih banyak lagi. Mulai sejak dini, anak-anak perlu ditanamkan sikap berani dan dibekali pengetahuan penyelamatan diri. Hadirnya sosialisasi kebencanaan sangat penting sebagai mitigasi yang dapat dilakukan. Semoga dengan kesiagsiagaan bencana ini dapat meningkatkan kewaspadaan kita dan menguatkan masyarakat dalam menghadapi bencana.

 

Author : Paradita Kenyo Arum Dewantoro