Gunung Batur

Siapa sih yang tidak kenal Bali? Ribuan manusia di muka bumi ini sudah sangat mengenalnya. Bahkan lebih kenal Bali daripada negara Indonesia kita tercinta ini. Pulau dewata bak surga dunia yang melenakan, menentramkan, dan memanjakan mata siapapun yang datang kesana. Mulai dari wisatanya, budayanya, keramahan penduduknya bagaikan suatu kekuatan magis yang akan terus menarik wisatawan untuk datang, datang, dan datang lagi ke pulau kecil di jajaran kepulauan nusa tenggara ini.

Salah satu destinasi menarik di pulau yang menawarkan berbagai keindahan ini yaitu kawasan kaldera batur. Daerah pegunungan yang berada di ujung utara pulau Bali ini, memberikan suatu pemandangan yang begitu eksotis. Hanya dengan menempuh jarak sekitar 2 jam perjalanan dari kota Denpasar, dapat kita nikmati indahnya gunungapi yang bediri kokoh dalam dataran lantai kaldera yang luas. Gunung yang menjulang, berdiri tegak berdampingan dengan birunya air danau yang menyejukkan mata. Seakan suasana itu membius para pelancong untuk terus menikmati dan enggan berpaling dari cantiknya sajian sang maha kuasa ini. Dari puncak Kintamani, tersaji indah alam pegunungan nan elok dengan diselimuti sejuknya udara dan kabut yang sesekali datang.

Namun, dibalik keindahan ini tersimpan suatu peristiwa yang dahsyat. Sebuah letusan gunung batur purba terjadi sekitar 29000 tahun yang lalu. Kala itu, gunung batur memiliki ketinggian yang jauh lebih tinggi dari Gunung Batur saat ini. Dengan ketinggian lebih dari 3000 m diatas permukaan laut, dimuntahkan berjuta juta ton material dari perut gunung Batur. Dengan letusan bertipe plinian, terlontarkanlah material berbagai ukuran di sekitar gunung Batur. Bahkan material-material vulkanik tersebut terlontar sampai ujung selatan pulau Bali di sekitaran Tanah Lot. Akibat banyaknya magma dan material yang dikeluarkan, terjadilah kekosongan dalam dapur magma sehingga tidak adanya daya dukung terhadap puncak gunungapi tersebut. Runtuhan atap gunung Batur purba membentuk suatu bentang alam baru berupa kaldera batur. Kejadian letusan besar kembali terjadi sekitar 20000 tahun yang lalu dan membentuk kaldera pada tahap selanjutnya yang berdimensi lebih kecil di dalam kaldera pertama. Mulai masa ini pula dengan perlahan terbentuklah danau batur yang terus menerus terisi oleh air hujan dan menunjukkan keindahannya pada saat ini.

Danau Batur

Suatu sensasi tersendiri bagi para pengejar matahari, untuk dapat menikmati munculnya sang mentari di ufuk timur dari puncak batur. Dengan rute pendakian yang tidak terlalu sulit, dapat dicapai puncak batur hanya dalam perjalanan sekitar 2 hingga 3 jam saja. Wisatawan baik donestik maupun mancanegara tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dinginnya udara pagi selama perjalan dan di puncak Batur, serta merta terobati dengan munculnya warna keemasan di langit timur Bali sebagai pertanda munculnya sang pemberi cahaya. Kilauan air danau menambah kehangatan dan menyejukkan mata kita dalam menikmati indahnya mahakarya tak terkira dari sang pencipta.

Puncak G. Batur